pakaian nikah di KUA

Ketentuan Pakaian Baju Nikah di KUA

Nikahdikua.com – informasi tentang ketentuan pakaian baju nikah di KUA ( Kantor Urusan Agama ) Kementerian Agama Republik indonesia didasarkan pada aturan dan peraturan yang berlaku di lingkungan Kemenag pada saat acara ijab kabul di Balai Nikah.

Baca;
Syarat Nikah di KUA
Ketentuan Biaya Nikah di KUA
Aturan Ukuran Foto Nikah dan Jumlahnya di KUA

Bagi calon pengantin atau mempelai yang berkehendak untuk melaksanakan upacara pernikahan atau perkawinan pada Balai Nikah Kantor Urusan Agama, bisa jadi ada yang bertanya apakah ada ketentuan yang mengatur tentang busana pada saat acara ijab kabul bagi pengantin wali maupun para saksi dan yang mengantarkan.

Aturan Pakaian Baju Nikah di KUA berdasarkan PMA

Para penghulu dan pegawai di lingkungan KUA menggunakan aturan dari Peraturan Mentei Agama atau PMA nomor 19 tahun 2018 yang menggantikan PMA sebelumnya atau Peraturan Menteri Agama nomor 11 tahun 2007.

loading...

Dalam PMA ini mengatur mengenai tata cara mulai dari pendaftaran, pemeriksaan, ijab kabul dan alur penerbitan buku nikah.

Pada PMA yang dijadikan pedoman Kepala KUA, JFT Penghulu maupun Pegawai JFU Kantor Urusan Agama tidak mengatur tentang ketentuan pakaian busana baju pada saat akad pernikahan yang dilangsungkan pada Kantor Urusan Agama baik itu model, warna, harus pakai peci atau melepas jilbab maupun lainnya.

Menggunakan Asas Kepantasan atau Kepatutan

asas kepatutan dan kepantasan

Karena ketiadaan aturan dalam ketentuan berpakaian pada saat upacara ijab kabul pada balai nikah maka tidak ada larangan satupun dalam pemilihannya.

Pun begitu dibebaskan mengenai tata cara berbusana, tetaplah menggunakan asas kepatutan sebagai pengantin yang merupakan warga negara mendapatkan pelayanan yaitu penggunaan baju yang sopan dan layak.

Contoh pakaian yang tidak layak semisal; memakai sandal jepit, celana jeans yang bolong bolong, baju pengantin wanita terlalu terbuka pada area dada maupun diatas lutut kaki, kaos oblong dan lain sebagainya. Emang ada? Ada.

Pegawai KUA menolah calon pengantin yang berbusana sekenanya

Diceritakan oleh seorang ibu yang bekerja di KUA pernah menyuruh pulang kepada calon pengantin guna mengganti pakaian atau busana yang dikenakan karena asas kepantasan. Dalam kasus ini calon pengantin hanya memakai kaos oblong dan bersandal jepit kemudian nampak belum cuci muka.

Walaupun tidak ada larangan berpakaian sandal jepit kaos oblong serta belum cuci muka, karena alasan penghormatan dalam acara pernikahan dan asas kepatutan berbusana datang di Kantor pemerintah kemudian ibu tersebut meminta calon pengantin untuk kembali kerumah guna memakai busana yang layak dan patut selayaknya orang yang melaksanakan pernikahan.

Kesimpulan tentang pakaian nikah di KUA

Pertama, tidak ada ketentuan yang mengatur busana pada saat acara ijab kabul di Balai Nikah KUA

Kedua, pengantin boleh memakai jilbab atau peci kacamata dan lainnya

Ketiga, walaupun tidak ada ketentuan yang mengikat, selayaknya pengantin tetap memakai asas kepatutan dalam berbusana pada saat acara ijab kabul guna penghormatan kepada upacara pernikahannya sendiri dan kelayakan mendatangi kantor pemerintah.

Demikian informasi mengenai pakaian pada saat pernikahan di Kantor Urusan Agama Republik Indonesia.

3496total visits,5visits today

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *