Aturan calon suami tidak hadir dalam ijab kabul akad nikah

calon suami tidak hadir pada waktu ijab kabul
nikahdikua.com – Aturan calon suami tidak hadir dalam akad nikah pada KUA
Dengan zaman yang semakin canggih serta teknologi yang melesat menggila dalam perkembangannya saat ini banyak beredar pendapat para ahli fikih maupun perkawinan terkait mrniksh lewat telekonference maupun via telfon.

Walaupun begitu, sebagai warga negara Indonesia tentunya terikat dengan tata perundangan dan peraturan yang berlaku.

Baca :

Aturan Kehadiran Calon Suami dan Istri pada saat Ijab Kabul

rukun nikah
rukun nikah (c) MHOBL

Pada Peraturan Menteri Agama terbaru yang mengatur tentang pernikahan, diaturlah terkait tata cara akad nikah. Dan salah satunya yaitu tentang kehadiran calon mempelai baik dari pihak suami atau calon istri.

Ketentuan dimaksud termuat pada BAB IV Tentang PELAKSANAAN PENCATATAN PERKAWINAN yang terdapat pada Bagian Kedua Tentang Rukun Perkawinan di  Paragraf 1 yang membahas Calon Suami dan Calon Istri.

Dalam Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa akad pernikahan dihadiri oleh pengantin baik pria (calon suami) maupun dari pihak wanita (calon istri).

Walaupun begitu, pada pasal 10 ayat (2) disebutkan hal yang mengatur manakala calon suami tidak bisa menghadiri acara ijab kabul. Berikut petikannya :

Dalam hal calon suami tidak hadir pada saat akad, dapat diwakilkan kepada orang lain dengan membuat surat kuasa di atas meterai yang diketahui oleh Kepala KUA Kecamatan, Penghulu, atau kepala kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri setempat.

Selanjutnya, jika ijab kabul dilaksanakan dengan cara perwakilan, maka aturan terkait orang yang mewakili harus memenuhi syarat dan ketentuan. Adapun syarat dan ketentuan sebagaimana dibawah ini :

  1. laki-laki;
  2. beragama Islam;
  3. berusia paling rendah 21 (dua puluh satu) tahun;
  4. berakal;dan
  5. adil.

Kesimpulan Aturan calon suami tidak hadir dalam akad nikah pada KUA

ada calon yang dianggap lebih baik
ada calon yang dianggap lebih baik

Kesimpulan dari peraturan diatas yaitu :

Bahwasanya secara umum pernikahan atau perkawinan maka pihak calon suami dan calon istri harus ada pada saat pelaksanaan ijab kabul.

Bilamana terjadi calon suami tidak dapat hadir dikarenakan oleh suatu hal alasan yang bisa diterima, maka pelaksanaan ijab kabul dapat dilakukan dengan adanya surat kuasa diatas materai dengan diketahui oleh Kepala KUA maupun penghulu di Kecamatan alamat calon suami, atau kepala kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri setempat.

Demikian semoga menambah wawasan hukum bidang pernikahan atau hukum munakahat di Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *